BENSIN PRABAYAR

Sebuah Pengandaian

Alkisah akhirnya pemerintah dengan beberapa pertimbangan tertentu menurunkan kembali harga BBM

antara lain bensin premium menjadi Rp4500,- . Artinya tetap dalam harga dengan subsidi.

Namun pemerintah untuk keadilan ekonomi sekaligus mengurangi beban subsidi kemudian mengeluarkan kebijakan sitim pra bayar bagi penerima bagian subsidi BBM terbesar yakni mobil pribadi.

Mobil pribadi dianggap tidak layak menerima subsidi jadi mereka harus mengembalikan subsidi yang tak pantas dinikmati. Dengan cara membayar dulu dimuka subsidi yang kelak diterima ketika mereka mengisi tanki bensinnya di SPBU. Untuk praktisnya pengembalian subsidi ini bisa dibayarkan bersamaan dengan perpanjangan STNK.

Berapa yang harus dibayar? Pasti bisa dihitung dengan mudah.

efisiensi penggunaan bensin juga tergantung perawatan mobil terutama mesinnya.

Tapi utuk sementara pakai hitungan sendiri.

Misalnya saya pengguna mobil dengan kapasitas mesin 1500cc mengisi bensin 30 liter seminggu jadi 1440 liter pertahun ( untuk berkomuter di Jakarta Raya dengan segala kemacetannya) dan harga bensin berdasarkan pasar dunia adalah katakanlah sama dengan harga rata rata bensin yang di jual di AS sekarang yaitu 1 1 USD perliter dan 1 USD =Rp 9300, maka subsidi yang terjadi adalah Rp. 9300,–Rp 4500,- (harga di SPBU) adalah Rp 4800,-.

Lalu yang saya harus pra bayar kan sebagai pemilik mobil 1500cc, setahun didepan sebagai pengembalian subsidi) adalah = 1440 literx Rp 4800= Rp.6.912.000,-

Lalu bagaimana dengan pengguna bahan bakar yang selama ini dianggap tidak bersubsidi, apakah berarti mereka harus mengembalikan subsidi 2x?

Mudah saja. Semua BBM yang dijual kemasyarakat dibuat bersubsidi. Jadi tidak ada pengembalian subsidi berganda.

Jadi sistim BBM prabayar dikenakan kesemua pihak yang mengkonsumsi BBM termasuk pabrik-pabrik, kecuali tentu saja konsumen konsumen sasaran subsidi seperti kendaraan umum dan truk-truk pengangkut.

Sementara di pihak pemerintah sendiri dengan cara perhitungan ini bisa menerima sekitar (untuk Jakarta saja dengan populasi mobil 1,5 juta ) akan menerima sekitar 10 Triliun dari mobil pribadi saja.

Secara keseluruhan dari seluruh wilayah Indonesia kira kira pemerintah akan mendapatkan “uang muka” sebesar 100 triliun dari “pra pengembalian “subsidi BBM .

Kalau pemerintah benar ketika mengatakan bahwa subsidi BBM 2008 (jika tidak dinaikan harganya) sebesar 180 Triliun Rupiah maka pemerintah hanya perlu menyediakan subsidi bagi yang memang membutuhkan .

Ada keuntungan lain selain ketentraman sosial dan ekonomi, Yaitu faktor devisa bangsa.

Para pengguna mobil akan berpikir dua kali bila ingin memiliki mobil pribadi yang “idle” alias kebanyakan bakal nongkrong di garasi karena akan merasa rugi telah membayar pemulangan subsidinya sementara bensinnya tidak dibeli.Jadi ujung ujungnya penghematan devisa karena praktis semua mobil dan bagian bagiannya adalah hasil import.

Tentu saja tentu akan ada berbagai kecurangan terjadi, misalnya membayar pengembalian subsidi didaerah murah kemudian meng operasikannya didaerah pengembalian subsidi mahal. Tentu ini dengan mudah dapat diatasi dengan mengenakan semacam surcharge bagi mobil pribadi yang membeli bensin diwilayah bukan nomor mobilnya.

Saptono Istiawan SK 4 Juni 2008

berita tentang pembatasan BBM di KOMPAS 21 September 2010:

http://cetak.kompas.com/read/2010/09/21/03031339/benahi.hal.mendasar.sebelum.batasi..bbm

One Response to BENSIN PRABAYAR

  1. […] lain:  https://saptono.wordpress.com/2008/06/05/bensin-prabayar/ Possibly related posts: (automatically […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: