RENCANA NEGARA

Kegemparan soal bunuh diri David Wijaya di Nanyang Technology University membuka mata kita bahwa
pemerintah Singapura, paling tidak menurut tulisan Rhenald Khasali di Kompas sabtu 7 Maret 2009 ,
punya rencana kedepan dan sangat konsisten, bahkan tampaknya sangat nervous
dalam menerapkannya, terlepas dari segala eksesnya macam cerita sedih
mendiang David ini.

Bandingkan dengan pemerintah pemerintah kita. Apa punya rencana kedepan yang
didasarkan sebuah visionary? Kita punya ideal dan ideologi untuk negara kita
: Keadilan sosial, kerukunan, dst…dst. Tetapi jarak antara kenyataan dan
ideal itu tetap saja menganga lebar bahkan semakin lebar, bukanya mengecil
bersamaan dengan berlalunya waktu dan zaman. Menetapkan sebuah ideologi
tentu bukan pekerjaan gampang dan saya tetap salut dengan para pendiri
negara kita. Tetapi membangun sebuah rencana untuk mencapai ideologi
tersebut rupanya sebuah problem besar bagi bangsa kita. Belum lagi
menerapkannya.

catatan: Yang namanya rencana tentu bukan pencapaian yang baik baik saja
tetapi juga rencana mengantisipasi problem strategis dimasa depan yang sudah
bisa terlihat ( dengan mata visionary) dari sekarang. Contohnya ya Singapur
lagi. Mereka memang punya problem besar dalam urusan demografi di masa depan
dan problem demografi ini berhubungan dengan kemajuan luar biasa yang
dicapainya selama ini.

Kembali ke Indonesia , dulu ada yang namanya repelita , Rencana Pembangunan
Lima Tahun meskipun ini merupakan (menurut saya) sebuah rencana jangka
pendek , lumayanlah meski lagi tak selalu diaplikasikan secara konsisten.
Sekarang dihilangkan dan rasanya belum ada gantinya ( walau sekedar ganti
nama dan baju/ yang ada cuma rencana rencana yang bersifat manajerial). Ini
sebuah indikasi lebih jauh bahwa dalam soal rencana sendiri, kita bahkan
mengalami kemunduran. Akibatnya dari jaman Kemerdekaan bangsa kita bagai
dalam keadaan darurat yang permanen dan belum pernah ada rencana melepaskan
diri dari keadaan tersebut. Kurang sembako, lapangan kerja, kota kota yang
tak kunjung tumbuh menjadi cantik dan nyaman, Universitas -universitas yang
trend outputnya adalah ilmuwan bukan ilmunya sendiri. Infrastruktur
transportasi yang kita kenal dengan Busway yang mengalami penurunan mutu
padahal punya potensi memecahkan masalah kemacetan…..dst…dst…

Mendiang Jenderal Benny Murdani, Menteri pertahanan dan Panglima ABRI (
sekarang TNI-AB) di zaman Suharto dalam sebuah wawancara dengan majalah
Tempo mengatakan mungkin bangsa kita adalah bangsa yang tidak familiar
dengan rencana. Hidup que sera sera saja. Apa yang akan terjadi biarkan
terjadi.
Bahkan dalam wawancara itu dia mengakui bahwa dia tidak luput dari sifat
itu dan memberikan contoh pengalaman ketika suatu saat dia berdiri di mimbar
suatu forum di Korea dan ditanya mengenai rencana apa saja yang dia miliki.

Dia , akunya, sangat terkejut. Rencana? Rencana saya ? Sebuah kosa kata
dalam bahasa Indonesia yang sering disebut tetapi maknanya baru terasa
mengagetkan di negeri orang. Tentu dia sebagai pimpinan lembaga tinggi punya
rencana- rencana rutin. Rencana Kerja , Rencana Anggaran, Rencana
Operasional, dan banyak lagi rencana rencana formal, tetapi dia tahu benar
bahwa bukan itu yang dimaksud. Mana mungkin di forum semacam itu menanyakan
hal hal rutin macam itu. Padahal bagi penanya pertanyaan itu standard saja
tetapi memang selalu harus ditanyakan.

Turut berduka buat keluarga David Wijaya.
Sebuah kehilangan besar juga buat bangsa kita.
Salam.
Saptono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: