ARSITEK SANG MEDIUM DAN ARSITEKTUR SEBAGAI MESSAGE

MEDIUM DAN MESSAGE
Phenomena apapun yang berada didunia ini harus kita pisahkan dalam dua hal , medium dan message, supaya semuanya menjadi mudah dipahami dan didalami.

MEDIUM
Baik gambar maupun text keduanya memang adalah sama sama “ cuma”medium, ( kalau digali gali lagi asal usulnya ,text sebenarnya juga gambar yang disistimasikan dan dikonvensikan sehingga operasional bisa menyampaikan message sebagai ganti atau pelengkap message yang disampaikan manusia secara aurial)

MESSAGE
Sementara messages ( pesan-pesan/ segala sesuatu yang ingin disampaikan atau disiarkan) nya dalam hal karya arsitektur ada didalam dan berasal dari benak Arsitek. Lalu kemana alurnya atau destinasi dari message setelah muncul dari benak arsitek ,apakah bisa dibilang berakhir cuma pada karyanya saja?

MESSAGE MENJADI MEDIUM
Padahal produk arsitektur itu sendiri , seperti yang kita lihat kemudian, jadi medium juga akhirnya. Medium untuk menyampaikan pesan pesan dari ego arsitek sendiri dan pesan pesan dari dunia dan zaman dimana arsitek itu menempatkan karyanya.
Disamping menciptakan fungsi utilitasnya tentu saja .

ASAL USUL DAN TUJUAN MESSAGE
Pertanyaan yang lebih gawat lagi: dimana the ultimate origin of the message/ s berada atau berawal?
Apakah memang benak arsitek merupakan persemaian message message yang akhirnya melahirkan sebuah karya arsitektur?
Rasanya juga tidak juga. Belum muncul didunia ini arsitek yang buta dan tuli. tidak bisa mencium tidak bisa merasa,tidak bisa mengecap, sejak lahir. Maksud saya sebagai” awal “dia harus terisolir total dari “awal-awal” lainnya.
Kemampuannya untuk menyampaikan messagenya pun membutuhkan kelima indra tadi.
Ini membawa kita pada kesimpulan bahwa benak arsitek (apa yang ada didalamnya maksud saya) juga merupakan medium juga. Hanya bedanya ia merupakan medium yang aktif mengakumulasikan serapan message message yang berada disekitarnya yang bisa dia tangkap atau memang menyusup sendiri,baik dengan/ melalui lima indranya maupun dengan indra keenam ketujuh dst.
Messages itu dia olah dan kemudian dia teruskan melalui media gambar atau teks atau bahkan (dilengkapi)dengan lisan menjadi sesuatu yang nyata yang bisa dipersepsikan yang disebut karya arsitektur. Tetapi sekali lagi , sesuatu yang nyata itu kemudian ( dalam idea arsitektur) menjadi medium juga. Jadi apakah alurnya berawal dari medium dan berakhir di medium juga? Apakah medium secara hakiki hanya bisa menghasilkan medium juga ?
Ada yang janggal disini , karena medium dan message harus hadir bersama. Salah satu absen berarti kematian=ketiadaan. Medium harus dimuati message supaya punya arti dan message memerlukan medium untuk hadir dan mengarungi dunia taktil.

PERAN ARSITEK SEBAGAI MEDIUM
Atau barangkali alur arsitek->karya , hanya merupakan suatu potongan dari alur yang lebih besar yang sebut saja sebagai alur yang membangun jejak peradaban? Arsitek harus cukup rendah hati untuk menemukan dirinya hanya berperan sebagai satu mata rantai saja. Tapi rasanya jadi kurang fokus kalau mulai singgung singgung soal budaya.
Atau kita bisa curiga bahwa justru dalam fungsi utilitasnya yakni mikro kosmos atau apa yang disebut sebagai built environment atau spatial order, yang muncul (yang sering dianggap banal) tersembunyi segala message nya?

PENTING MANA MEDIUM ATAU MESSAGE ?
Pertanyaannya lain yang kemudian bisa dimunculkan : apakah dengan demikian medium (bisa ) menjadi lebih penting dari, atau paling tidak sama penting , dengan messagenya ? Sehingga dengan demikian selesai sudah semua argumennya. Medium merupakan alam praxis operatif sementara message adalah milik alam ideal. Kita bisa susun bolak balik posisi medium dan message di alam yang kita cita-citakan dengan segala perhitungan konsekwensinya.
Lihat saja dalam dunia sehari hari, mass media (jelas sebuah medium)bisa menjadi begitu kuat untuk membentuk opini masa dalam suatu entity polity demokrasi, yang kemudian melahirkan putusan-putusan publik yang nota bene adalah “messages”. Sampai ada muncul adagium dalam dunia pers : “ Medium is message”.
Dan apakah itu yang kita inginkan atau hanya itu pilihan kita? Karena toh di jagat raya ini, massa (kalau kita setuju untuk kita analogkan dengan medium) bisa berubah jadi energy(message) /ingat e= mc2 nya Einstein. Dan sebaliknya energy bisa jadi massa (proses photosintesa yang merubah sinar matahari jadi sel tumbuhan).

MESSAGE MENUNGGANGI MEDIUM
Mungkin juga suatu saat di masa depan nanti ada computer yang bisa menggenerate sendiri softwarenya atau sebaliknya ada software ( message) yang bisa membangkitkan hardwarenya ( medium)sendiri. Sekarang saja sudah ada keyboard virtual.Keyboardnya tidak benar2 ada, hanya sinar laser yang diproyeksikan ke bidang yang jadi tempat jari-jari kita menginput “message”. Tapi seperti saya sebut diatas medium dan message saling mebutuhkan dan dengan sendirinya kebutuhan itu memerlukan interdistinction atau contradistinction supaya bisa saling mengisi.
Atau kita tetap kukuh memperjuangkan bahwa message selalu lebih penting dari medium.
Semuanya bisa saja , masing2 masing dengan alasan yang bisa jadi bahasan tersendiri.
Namun paling tidak kita bisa mendapat jawaban tersendiri yang katakana saja “masih “ bersifat subjektif tentang apakah medium menjadi sama nilainya dengan message, padahal kan jelas medium “melayani” sementara message dilayani. ( atau melayani tidak selalu lebih rendah dari dilayani? Kuda tidak lebih rendah dari penunggangnya? Untuk (menerima )itu tentu kita harus mencermati lagi idea  tentang strukturalismenya dalam anthropologi . lihat /http://www.as.ua.edu/ant/Faculty/murphy/struct.htm

Coba lihat kalau kita kehilangan passport dinegeri orang. Sepertinya kita juga kehilangan identitas diri kita bersamaan dengan hilangnya tanda/surat/bukti identitas kita sebagai warga RI yang syah? Kita akan sulit , walaupun masih mungkin, untuk pergi meninggalkan negeri itu untuk kembali kampung.
Atau muncul kata-kata mengejek dari seorang petinggi Kerajaan Inggris dulu mengomentari kota Melbourne yang sedang mekar2nya. di Australia yang baru dia kunjungi dengan ucapan:”it’s a city without a soul”. Apakah mungkin sebuah kota yang sebenarnya sebuah organisme raksasa bisa dibangun tanpa jiwa?
Tapi bagaimana dengan message yang kita tumpangkan dalam medium yang disebut uang. Dalam ilmu ekonomi uang adalah (salah satunya) medium penyimpan nilai. Jadi uangnya sendiri cuma sebagai pembawa. Tapi coba kita bakar itu uang kertas itu maka turut hilanglah nilai yang tadinya kita miliki, bersama dengan hangusnya uang itu seolah medium dan message sudah menjadi satu disitu. Tetapi secara objektif apakah benar benar nilai( message)nya bisa hilang? Secara teoritis /teknis kita masih bisa mengajukan permohonan penggantian uang dari Negara yang mengeluarkan uang itu sehingga kita bisa mendapatkan kembali nilai yang menjadi hak kita.Tapi praktis effortnya tidak akan sebanding dengan “gain”nya. Jadi sebut saja nilainya juga ikut punah.
Belum lagi dengan munculnya istilah :”Uang punya kuasa”,” UUD”, dan segala derivasinya derivasi istilahnya.

TEORI KEKEKALAN ENERGI BERLAKU JUGA BUAT MESSAGE?
lebih jauh apakah sebuah message (nilai) bisa hilang/ punah ? Atau sekedar pindah tempat karena punya sifat abadi?
Sementara medium memang bisa kita bangun dan bisa juga hancur yang kemudian hanya menyisakan dongeng dan mythos (kalau medium itu berupa suatu karya yang hebat dan pantas dipergunjingkan turun temurun) yang mungkin juga, lagi lagi, “hanya” sebuah medium dalam bentuk lainnya. (sepertinya disini berlaku juga hukum yang mirip dengan hukum yang dalam ilmu fisika disebut sebagai hukum siklus kekekalan massa dan energy yang dirumuskan oleh Einstein tadi diatas ).
Pertanyaan akhir saya disini adalah: apakah tugas Arsitek adalah mengolah medium dengan cerdas dan menyampaikan message dengan elegan? Implikasinya adalah mengolah arsitektur sejak sketsa hingga terujud karya arsitektur dengan intens dan kemudian memberi semacam subtitle di bagian bawah bingkai vistanya?
Atau mengolah medium dengan elegan sembari menyampaikan message dengan cerdas? Yaitu mengolah arsitektur dengan intuisi ?

Atau seharusnya kombinasi keempat-empatnya barangkali.
Paling tidak supaya karyanya bisa di apresiasi oleh dunia (sekelilingnya) sukur sukur menjadi inspirasi.
Saptono Istiawan SK IAI 15 Nopember 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: