RUGI MACET

Kemacetan memberi kesempatan pengemudi kendaraan bermotor “menikmati” balyhoo sehingga di tempat kemacetan pemasang iklan meraup nilai lebih tersendiri.

Akibat kemacetan di jalan jalan ternyata lebih dari yang kita bayangkan. Pemakaian BBM yang menggelembung karena kemacetan adalah salah satu penyebab beralihnya Indonesia dari pengekspor Minyak menjadi nett importer.

Belum lagi soal kerugian rupiah yang luar biasa besar seperti berita dibawah ini:

20 Juni 2007 22:51:00Kerugian Akibat Kemacetan Capai Rp 80 Triliun
Reni Susanti

Bandung-RoL– Kerugian akibat kemacetan yang terjadi di Indonesia mencapai Rp 70 triliun-Rp 80 triliun per tahun. Angka itu diperoleh dari 60 kota/kabupaten besar yang ada di Indonesia.
”Ini proses pemiskinan Indonesia,” ujar Guru Besar transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Ofyar Z Tamin, kepada <I>Republika<I>, Rabu (20/6).
Ofyar mengatakan kerugian masyarakat pada 2004 di Kota Bandung sebesar Rp 1,5 miliar per hari saat premium Rp 2.500 per liter. Angka itu dihitung dari lamanya perjalanan yang diakibatkan oleh kemacetan.

Dicontohkan Ofyar, jarak antara satu tempat ke tempat lain biasanya 30 menit namun kini bisa mencapai 1-1,5 jam. Perpanjangan waktu ini membuat pengeluaran uang untuk bahan bakar lebih tinggi. Terlebih harga BBM dari waktu ke waktu semakin meningkat.

”Jika BBM naik 70 persen maka kerugiannya mencapai Rp 2,5 miliar. Lalu dikalikan 300 (perhitungan hari dalam setahun) saja, maka kerugian sekitar Rp 0,8 triliun per tahun,” katanya menjelaskan.

Untuk wilayah Jakarta, Ofyar , penulis buku ” Perencanaan dan Pemodelan Transportasi”, menjelaskan, kerugian yang diderita mencapai tiga kali lipat atau sekitar Rp 3 triliun per tahun. Dari hasil surveinya, ada 60 kota/kabupaten besar di Indonesia yang mempunyai persoalan dengan macet. Ia memprediksi uang yang terbuang percuma untuk bahan bakar sebesar Rp 70 triliun-Rp 80 triliun per tahun.
”Jumlah itu belum termasuk kerugian waktu, serta emosi yang
dikeluarkan,” cetus dia. Ia mencontohkan, akibat kemacetan emosi bisa tidak terkendali dan melakukan hal-hal bodoh. Misalnya memukul anak,membentak isteri dan lainnya.

Selain itu, angka tersebut belum dihitung dengan polusi kendaraan untuk lingkungan dan kesehatan. Polusi, mengundang infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ataupun penyakit lainnya. Parahnya, yang merasakan ini semua
adalah masyarakat.

”Pemerintah tidak merasakan itu,” cetus dia. Kondisi ini berbeda
dengan luar negeri. Pasalnya, seluruh pengeluaran yang dikeluarkan
masyarakat dihitung dan menjadi tanggung jawab pemerintah, terutama jika masyarakat masuk rumah sakit.

Untuk itu, sambung Ofyar, diperlukan transportasi terintegrasi. Ia mencontohkan, trans Jakarta yang dibilang cukup sukses sebagai angkutan massal. Namun belum tentu busway sesuai dengan kota/kabupaten di Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan penelitian jenis angkutan massal
yang cocok untuk masyarakat.

Sumber: http://www.republika.co.id

(PS ini berita 3 tahun yang lalu waktu bensin masih Rp 2500<_)

site terkait: http://www.pustral-ugm.org/fstpt/?page_id=25

blog pribadi Prof Ofyar: https://ofyarztamin.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: