KONSTRUKSI KATA DAN DEKONSTRUKSI

Batara ( avatar) Ganesha putra Dewa Siwa, kisahnya merupakan simbolisme konstruksi dan dekonstruksi

Dulu kita diajarkan bahwa setiap kata dalam bahasa Inggris yang lebih dari satu sylabel (suku kata) punya kemungkinan merupakan gabungan kata.  Inilah yang disebut dengan” konstruksi kata”. Contohnya adalah : Kata Context= con+text= apapun yang mengiringi text. Apakah setiap text harus diiringi sesuatu( ada tracing ke sesuatu.), atau setiap sesuatu harus ada textnya? ( setiap sesuatu harus mentrace menuju suatu keabsolutan).

Tapi apakah yang disebut dengan dekonstruksi?

Dekonstruksi adalah sebuah metode pembacaan teks. Dengan dekonstruksi ditunjukkan bahwa dalam setiap teks selalu hadir anggapan-anggapan yang dianggap absolut. Padahal, setiap anggapan selalu kontekstual: anggapan selalu hadir sebagai konstruksi sosial yang menyejarah. Maksudnya, anggapan-anggapan tersebut tidak mengacu kepada makna final. Anggapan-anggapan tersebut hadir sebagai jejak (trace) yang bisa dirunut pembentukannya dalam sejarah.
Jacques Derrida menunjukkan bahwa kita selalu cenderung untuk melepaskan teks dari konteksnya. Satu term tertentu kita lepaskan dari konteks (dari jejaknya) dan hadir sebagai makna final. Inilah yang Derrida sebut sebagai logosentrisme. Yaitu, kecenderungan untuk mengacu kepada suatu metafisika tertentu, suatu kehadiran objek absolut tertentu. Dengan metode dekonstruksi, Derrida ingin membuat kita kritis terhadap teks.
Metode dekonstruksi merupakan proyek filsafat yang berskala raksasa karena Derrida sendiri menunjukkan bahwa filsafat barat seluruhnya bersifat logosentris. Dengan demikian, dekonstruksi mengkritik seluruh proyek filsafat barat.

( sumber penegertian dekonstruksi : Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto, lebih jauh mengenai dekonstruksi lihat page facebooknya di : http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818759&id=601337443 ).

Baca juga:  1. http://prelectur.stanford.edu/lecturers/derrida/deconstruction.html

2.http://en.wikipedia.org/wiki/Deconstruction

NB: Kisah Ganesha:

Dalam keadaan gusar Batara Shiva pulang kekediamannya. Di pintu rumahnya ada seorang anak duduk di ambang pintu menghalanginya. Bertambah murka maka dipenggallah kepala anak itu tanpa berpikir sedikitpun. Menyadari bahwa anak itu adalah putranya sendiri terkejutlah dia. Namun dengan kesaktiannya dia segera menggantikan kepala anaknya dengan kepala seekor gajah yang kebetulan berada didekatnya. Sang gajah tidak mati sia sia karena putra dewata hidup kembali hanya dengan sedikit keganjilan. Nama sang anak adalah Ganesha yang kelak menjadi dewa kepandaian dan seni dan disini menjadi lambang ITB.

Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah: mengapa Dewa Shiva tidak meletakan kepala si anak di badan gajah?  Apakah badan lebih penting dari kepala?  Demikian juga apakah kata lebih penting dari makna atau sebaliknya? Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: