PENATAAN KEPADATAN AKAN MENGHASILKAN KOTA YANG NYAMAN

 

Apakah pengaturan tingkat kepadatan penduduk suatu kota berpengaruh terhadap kesejahteraan penduduknya?
Ya, kata Jane Jacobs penulis buku “The Death and Life of Great American Cities”. Menurut dia ,kota yang teralu padat akan menekan sifat keragaman suatu metropolis , sebaliknya kalau terlalu renggang akan memunculkan urban sprawl yang ujung ujungnya berdampak bencana bagi transportasi dalam kota.
Ia menyarankan sekitar 300 unit hunian per acre atau  sekitar 740 unit hunian per hektar. Jadi rata rata bangunan hunian terdiri dari sekitar 6 lantai.
Sementara bangunan tak bertingkat atau paling banyak 2 lantai akan  menghasilkan kota merambah alias urban sprawl seperti yang terjadi di Jabodetabek. Kota semakin luas dan transportasi mengalami beban yang meningkat secara spiral. Jadi dilema,  karena pusat kota

menjadi sangat tak terjangkau bagi golongan menengah kebawah padahal kalau tinggal jauh di pinggiran beban biaya transport pun  mencekik mereka.
Seharusnya semakin kepusat semakin tinggi kepadatannya sesuai dengan langkanya tanah dan besarnya investasi infrastruktur yang sudah ditanam disana selama ratusan tahun.  DKI dan sekitarnya sepertinya tak begitu memprioritaskan  penataan kepadatan.

Namun disisi lain, angka yang dikemukakan Jane Jacobs adalah angka untuk tahun 1960 an. Kota kota didunia terus berkembang secara progresip. Jane Jacobs tetap benar dalam prinsip penataan kepadatannya namun angka angka harus di sesuaikan dengan perkembangan terkini. Prof. Edward L. Glaeser ekonom dari Universitas Harvard  mengatakan bahwa pembatasan ketinggian bangunan hunian pada 6 lantai sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan metropolitan lagi. Pembatasan itu justru memecah belah komunitas kota karena pusat kota hanya akan dihuni oleh yang mampu mendapatkan hunian disana sementara yang tidak mampu akan tertekan jauh  keluar dari  wilayah pusat kota. Ia mengemukakan sebagai contoh bahwa harga condominium di Manhattan New York  separuhnya berupa biaya biaya akibat regulasi (penataan)  penggunaan tanah. Maka kota besar seperti Jakarta sebaiknya dibuat peraturan yang membatasi kepadatan minimum dari suatu area. Bukan sebaliknya .

artikelnya di:

http://economix.blogs.nytimes.com/2010/05/04/taller-buildings-cheaper-homes/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: