PENGAKUAN SEORANG WARGA TERKUCILKAN

Akhirnya muncul juga pengakuan yang seharusnya muncul puluhan tahun yang lalu. baca: http://www.newsweek.com/2010/06/05/lost-tribe.html.

Sebagai catatan dari artikel ini harap diingat ada perbedaan mendasar antara kaum Yahudi (etnik) dan Zionist ( gerakan politik). Kalau tidak pemahaman kita akan apa yang terjadi akan kacau balau dan akan membawa bawa soal agama. Yahudi belum tentu Zionist sebaliknya Zionist memang selalu Yahudi. Dan Zionist akan senang hati berlindung dibelakang masalah agama.

Lebih jauh lagi saya juga agak ragu bahwa kata  Yahudi itu istilah yang benar benar mengacu pada suatu etnik. Saya punya dugaan kata Yahudi sebenarnya  mengacu kepada suatu kelompok (elit) dalam etnik Ibrani ( keturunan Ibrahim) yang menguasai Kitab ( ajaran ajaran) Musa.  Point saya adalah bahwa kalau kita cermat dan tidak sembrono mendistinksi suatu istilah dalam hal ini: Ibrani, Yahudi dan Zionist maka kita akan lebih mudah memandang/mendekati persoalan secara benar. Tetapi semua sepertinya sudah terlanjur berpersepsi sendiri sendiri sesuai dengan “selera” masing masing, hampir tanpa ada harapan mendapatkan titik temu untuk menyelesaikan akar persoalan sebenarnya.

Jadi yang orisinil jadi korban, pemangsanya ya yang mengatasnamakan si korban.
Memang  bangsa lain yang  non ” yahudi” mendukung negara Israel memang banyak, tapi kalau non Yahudi mendukung Zionisme saya sangsi karena pada awalnya sampai terbentuknya negara Israel ( nama lain dari nabi Yakub a.s) gerakan ini merupakan gerakan sangat rahasia, semacam secret society.Bagaimana mendukung kalau tak tahu keberadaannya.
Yang jadi ancaman buat eksistensi Israel justru warga Palestina dalam pengungsian yang dulu terusir dari rumah rumah mereka di tahun 1948. Mereka begitu banyak sehingga kalau diterima menjadi WN Israel, kaum ” Yahudi” di negara akan jadi minoritas dan Israel akan dikuasai Palestina. Kecuali kalau negara ini bersedia melakukan politik demokrasi ala apharteid seperti di Afrika Selatan dulu dimana sang mayoritas ( penduduk kulit hitam) di sangkal hak demokrasinya sehingga kaum minoritas ( kulit putih) tetap langgeng kekuasaannya. Tetapi seperti yang kita saksikan apartheid akhirnya runtuh dibawah desakan dunia dan kekuatan perjuangan si mayoritas.
Dalam semua perundingan perdamaian yang sudah terjadi, pihak Palestina selalu menuntut hak untuk pulang bagi Palestinian on exile. Dan ini memang sangat wajar. Dan Israel kalau menerima ini berarti akhir dari cita cita Zion. Jadi memang deadlock. Dengan kata lain dua negara di Palestina adalah omong kosong. Satu satunya jalan buat israel untuk tetap eksis adalah dengan kekerasan ( termasuk senjata nuklir dan tembok panjang )yang mana amat disesali Ehud Eiran diatas, karena mengorbankan moral base yang dibutuhkan untuk berdirinya suatu negara.Apharteid di Afsel juga runtuh terutama karena tiadanya moral base ini. Sementara senjata nuklir hanya bermanfaat kalau lawan tak memiliki. Kalau lawan memilik manfaat deterennya hilang. Makanya Israel berusaha mati2an untuk menghalangi negara disekitarnya untuk memiliki nuklir juga. Ingat peristiwa serangan Israel ke Instalasi nuklir di Irak.
Jalan lainya adalah mencari dukungan moral dari negara negara lain, tetapi negara lain cepat atau lambat akan kesulitan untuk memberi dukungan terus dengan ketiadaan moral base ini. Peristiwa serangan di Avi Marmara adalah buktinya. Tapi Israel saat itu memang tak punya pilihan lain selain menyerang. Israel sepanjang sejarahnya memang akan terbebani dengan masalah yang sangat mendasar: eksistensi dirinya sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: