THE MATRIX

 

bagaimana menghubungkan raga manusia dengan perangkat keras?

 

resensi film oleh Saptono Istiawan

Bumi menjelang akhir abad 22 telah berubah menjadi sebuah bola gurun. Skema klasik berakhirnya kemanusiaan rekaan futuris-futuris adalah sekitar pertempuran armagedon antara dua kubu. Kali ini versi kedua kubu ini agak berbeda. Bukan antar manusia, namun antara manusia dengan ciptaannya sendiri: artifisial intelegence (AI) .

Pada mulanya AI melayani manusia dengan baik sesuai dengan tujuan penciptanya, namun dalam kecerdasannya yang selalu meningkat AI memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri dan akhirnya berontak terhadap penciptanya.

Manusia dalam usaha terakhirnya untuk melumpuhkan ciptaanya sendiri yang memberontak , telah menghancurkan matahari dengan harapan mesin-mesin AI tersebut akan tidak berfungsi sama sekali tanpa sumber energi yang berlimpah seperti matahari. Sisa-sisa manusia sendiri mengungsi ke dekat pusat bumi dimana masih tersisa kehangatan energi dan membangun kota terahirnya: Zion.

Namun dugaan manusia meleset. Setelah terlanjur menghanguskan langit. Manusia justru menyaksikan kecerdasan buatan menemukan sumber energi pengganti : yaitu tubuh tubuh manusia itu sendiri. Kecerdasan buatan tersebut kemudian membudidayakan dan mendaur ulang tubuh milyaran manusia dalam suatu ladang yang hampir tak terbatas. Untuk berkembang biak manusia tidak lagi dilahirkan, namun ditanam. Sementara mesin tersebut menyerap energinya untuk kebutuhannya sendiri, kesadaran manusia-manusia budi daya tersebut dimasukan dalam suatu sistim program interaktif multi persepsi yang disebut The Matrix. Manusia seperti sedang dalam permainan video game, hanya disini persepsi yang dimanipulasi bukan hanya persepsi penglihatan dan pendengarannya saja namun semua panca inderanya. Persepsi menyeluruh tersebut dimanipulasi dan dikontrol oleh suatu program raksasa ciptan mesin-mesin AI. Dan program persepsi-persepsi tersebut selain interaktif juga saling berkaitan satu dengan lainnya. Barangkali “The Matrix” adalah bentuk 3 dimensi dari internet, sebagaimana kubus adalah bentuk 3 dimensi dari bujur sangkar.

Nebuchadnezzar, Sebuah kapal selam yang dibangun tahun 2069 di Amerika Serikat, melakukan pelayaran pembangkangannya di sekitar tahun 2199 terhadap The Matrix. Kapten kapal Nebuchadnezzar, Morpheus (bahasa Yunani berarti pikiran ), yakin sekali bahwa diantara milyaran manusia yang yang hidup dalam dunia virtual tadi ,ada seseorang yang mempunyai potensi mengatasi kehidupan persepsi digital tadi.

Pertemuan antara Mesiah dan Yahya terjadi juga. Sang Messiah yang ditemui dalam diri Thomas Andersen seorang hacker yang mempunyai nama samaran Neo.

Alkisah Nebuchadnezzar, sendiri telah dilengkapi dengan mesin yang bisa meloloskan manusia-manusia ciptaan The Matrix dari dunia virtual ke dunia nyata. Neo yang diloloskan oleh Morpheus dari dunia virtualnya (“Welcome to the real world !” ) akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan yang menggangunya selama ini.

Dunia dalam kesadarannya selama ini bagaikan dikendalikan oleh suatu sistem yang amat kuasa. Namun selain yang ia rasakan itu ia tidak tahu apa-apa . Dengan bekal jawaban tadi Neo diminta untuk menghancurkan The Matrix , demi membebaskan kemanusiaan dari sistim yang memenjarakannya ( “I know ,You’re the one!”). Neo setuju dan ia mulai dengan misinya dengan menantang Agents , tiga orang “ FBI Virtual “ yang Morpheus yakin dapat diatasi oleh Neo karena mereka hanya virtual sementara Neo nyata.  Agents ini yang merupakan penjaga , pengawas sekaligus representasi dari sitem The Matrix, mempunyai kemampuan yang superhuman. Namun tetap saja kemampuan mereka adalah virtual. Neo ternyata tidak perlu mencari mereka, karena Agents tersebut memang sedang memburu Neo bahkan sebelum dibebaskan dari alam virtual oleh Morpheus. Para Agents tersebut memperoleh informasi bahwa melalui Neo yang sedang mencari jawaban mengenai pertanyaan mengenai sistem tadi, mereka akan dapat menemui Morpheus dengan Nebuchadnezzar nya. Tujuan untuk menemui Morpheus sendiri adalah untuk mengetahui kata sandi untuk mainframe komputer kota (nyata) Zion, benteng terakhir kemanusiaan. Kalau Morpheus dan Neo yakin bahwa dunia real mereka lebih baik dan sebaliknya para agen menganggap The Matrix adalah yang terbaik buat kemanusiaan, lalu bagaimana pendapat di tengah tengah (kaum bimbang) seperti kesimpulan dari tokoh Cypher ? Cypher salah satu awak Nebuchadnezzar, ditengah kesangsiannya terhadap perjuangan Morpheus, telah menghianatinya dengan membajak cockpit cyber.

Toh pada menjelang kemenangannya , Neo memutuskan untuk tetap tinggal dalam dunia virtualnya daripada menghancurkan The Matrix .

Dalam pertimbangannya Neo berpendapat bahwa lebih baik membiarkan manusia yang sudah terlanjur dibudidayakan tetap dalam kungkungan The Matrix daripada menjadi tanpa aturan apapun sebagai penggantinya. Apakah nilai kebenaran bergeser dalam perjuangan untuk mendapatkannya ?

Cerita filem ini penuh dengan ironi dan sepertinya berdasarkan ironi belaka. Nama Nebuchadnezzar diambil dari nama raja Babylonia , yang pada sekitar tahun 586 SM justru menghancurkan Zion dan seluruh kota Jerusalem. Ironi terbesar adalah manusia pada mulanya membutuhkan mesin atau pesawat-pesawat yang ia ciptakan untuk bertahan hidup, namun akhirnya manusia tersebut menjadi tempat bergantungnya hidup mesin-mesin ciptaanya.

The Matrix,Warner Brothers, cerita asli dan skenario, produser  dan sutradara, Laurence Wachowski dan Andrew Paul Wachowski .

Jakarta 17 Juli 2000Saptono Istiawan SK

(pindahan dari blog tandakala)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: