URBAN SPRAWL=URBAN FATE= URBAN DOOMED

Titik pusat Jakarta pada jam tujuh pagi ditiraii oleh kabut tipis. Seandainya kawasan segi empat di Utara Monas yang dibatasi oleh Jl. Juanda,jl. Gn sahari, jl. Sawah Besar dan jl Hayam Wuruk, di bangun pemukiman high rise, mungkin seluruh pemukiman di Pondok Indah, Bintaro, Kota Wisata dan BSD, plus penduduk lokal kawasan tersebut, bisa ditampung disana, mengurangi beban commuter.foto ini diambil pada tanggal 11 Oktober 2010 pada ketinggian k.l. 7000 m

Tepat di titik pusatnya, Jakarta di dominasi bangunan bangunan bertingkat satu atau dua,dengan kapasitas bangunan yang dengan sendirinya rendah. Untuk memenuhi kebutuhan perkembangan penduduknya Jakarta memilih berkembang secara horizontal sejauh radius 40 km, ke Barat, Timur dan ke Selatan, URBAN SPRAWL, menggenerate kebutuhan lalu lintas yang tak akan pernah bisa diakomodasi infra struktur transportasinya, Jakarta mencekik dirinya sendiri, URBAN FATE, menimbulkan frustrasi progresip bagi para commuternya sampai tingkat yang tak tertolerir lagi URBAN DOOMED.

Jakarta ( dalam hal ini propinsi  DKI ) berpenduduk 9,6 juta jiwa dengan luas wilayah 650 km2. Berarti DKI berkepadatan rata rata sekitar 145 jiwa / hektar. Saya kira disinilah akar semua permasalahan ibukota kita ini. Dengan kepadatan yang demikian rendah ( untuk sebuah metropolitan ) dengan segala daya tariknya bagi penduduk disekitarnya, wilayah naungan DKI menjadi begitu ekspansif hingga JABODETABEK dan akan menjadi lebih jauh lagi. Tak ada infra struktur yang memadai yang bisa mengakomodasikan kebutuhannya, terutama transportasi. Katakan lah kepadatannnya dinaikan 3 x saja ( dalam 20 tahun kedepan ), maka efeknya adalah, atau daya tampungnya meningkat 3x lipat atau wilayah pengaruhnya akan menciut menjadi sepertiganya. Yang terakhir ini tentu akan meringankan beban infra strukturnya, katakanlah sampai sepertiganya juga. 

Tentu ada konsekuensi ekologisnya juga (kepadatan tinggi) tetapi masih jauh lebih ringan daripada konsekuensi JKT dengan kepadatan rendah dan menjadi sangat meluas.Sebaiknya memang Jakarta meninggalkan kebijakan yang berdasar mashab kepadatan rendah. Kelihatannya saja kepadatan rendah sangat akrab dengan lingkungan, tapi untuk ukuran masif berlaku hukum alam yang berbeda. Mashab itu hanya cocok untuk kota independen berpenduduk  dibawah 100.000 orang.

Tapi kelihatannya mashab berkepadatan rendah masih akan dipertahankan di RTRW DKI 2010-2030 baca

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/29/02531419/rtrw.2030.masih.lemah

Lihatlah! mereka menghitung kepadatan secara 2 dimensi, jadi kepadatan 500 penduduk per hektar sudah dianggap luar biasa. Padahal bila melihat secara 3 dimensi, kepadatan sebesar itu cuma kelas menengah. Bangunlah menara menara hunian, maka 1 hektar bisa dihuni oleh 1500 orang dengan nyaman:

http://cetak.kompas.com/read/2011/01/14/04192316/kepadatan.kian.menyesakkan

Kemampuan ada dan usaha bukannya tidak pernah dilakukan tapi terbukti pemerintah tak punya visionary dan koordinasi:

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/28/03193714/ribuan.unit.rusun.telantar

http://properti.kompas.com/read/2011/02/28/0355092/Pemerintah.Belum.Bisa.Merealisasi

 


One Response to URBAN SPRAWL=URBAN FATE= URBAN DOOMED

  1. […] The busiest day of the year was October 23rd with 35 views. The most popular post that day was URBAN SPRAWL=URBAN FATE= URBAN DOOMED. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: