AKSARA JAWA

Ronggowarsito III, ( 1802-1874) pujangga Jawa yang menggunakan aksara Jawa dalam karya karyanya.

Aksara Jawa terdiri dari 20 huruf yang masing masing huruf punya penjelasan filosofis tersendiri

  1. Ha = Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari Yang Maha Suci
  2. Na = Nur candra, gaib candra, warsitaning candra – pengharapan manusia hanya selalu ke Sinar Illahi.
  3. Ca = Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal.
  4. Ra = Rasaningsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani.
  5. Ka = Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam.
  6. Da = Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya.
  7. Ta = Tatas, tutus, titis lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup.
  8. Sa = Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan.
  9. Wa = Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas, namun implikasinya bisa tanpa batas.
  10. La = Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi.
  11. Pa = Papan kang tanpa kiblat – hakekat Allah yang ada disegala arah.
  12. Dha = Dhuwur wekasane endek wiwitane – untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar.
  13. Ja = Jumbuhing kawula lan Gusti – selalu berusaha menyatu-memahami kehendak-Nya.
  14. Ya = Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah / kodrat Illahi.
  15. Nya = Nyata tanpa mata, ngerti tanpa disuruki – memahami kodrat kehidupan.
  16. Ma = Madep mantep manembah mring Illahi – yakin, mantap dalam menyembah Illahi.
  17. Ga = Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani.
  18. Ba = Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam.
  19. Tha = Thukul saka niat – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niatan.
  20. Nga = Ngracut busananing manungsa – melepaskan egoisme pribadi manusia.

Secara keseluruhan ke 20 huruf itu membentuk empat  kalimat yang membentuk suatu cerita yang juga punya nilai penjelasan filosofis :

  1. Ha-Na-Ca-Ra-Ka, berarti ada utusan, yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dan jasad manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia sebagai ciptaan-Nya.
  2. Da-Ta-Sa-Wa-La, berarti manusia diciptakan sampai dengan data “saatnya (dipanggil)” tidak boleh sawala, ‘mengelak’ manusia dengan (segala atributnya) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.
  3. Pa-Dha-Ja-Ya-Nya, berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khaliq) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksudnya padha, sama atau sesuai, jumbuh, cocok, tunggal bathin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu menang, unggul sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan, sekedar menang atau menang tidak sportif.
  4. Ma-ga-Ba-Tha-Nga, berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

    sumber: ” Butir Butir Budaya Jawa” oleh Hardiyanti H. Rukmana , penerbit Yayasan Purna Bhakti Pertiwi 1990

    sumber: milis maminsib posting Ir. Edwiro Purwadi.

    Belajar Aksara Jawa lewat cara digital (Oleh Teguh Budi Sayoga via Hariyanto Imadha):  http://indodata2009.wordpress.com/2012/04/08/komputer-orang-jawa-kok-tidak-bisa-menulis-huruf-jawa/

    Sekedar info : 7 tingkatan dalam bahasa Jawa:

    1. ngoko,
    2. ngoko andhap,
    3. madhya,
    4. madhyantara,
    5. kromo,
    6. kromo inggil,
    7. kedhaton

    Berita terbaru:

    Ronggowarsito III telah dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana R.I. pada tahun 2010 oleh presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, namun baru diserahkan oleh Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Etty Indriati hari jumat 7 September 2012 yang lalu. Penghargaan itu diterima oleh pimpinan Keraton Surakarta   dwitunggal: Susuhunan Paku Buwono XIII dan KGPH Panembahan Agung Tejowulan pada acara malam budaya dalam rangka konferensi tahunan FACP ( Federation  for Asian Cultural Promotion di taman Balekambang, Solo. ( sumber KOMPAS  9 September 2012).

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: