HOMOSEXUAL DI MATA KAUM PRIMITIF

Kemarin ( 7 Juli 2012) saya sempat nonton TV acara Nat Geo Channel Serial Berjudul (kurang lebih) Native visit USA): Dalam episode ini diceritakan tentang 5 orang penduduk asli primitif dari sebuah pulau di Pasifik Tengah (Lanna?) berkunjung ke Amerika Serikat dalam semacam program pertukaran budaya. Mereka antara lain diantar ke Montana dan kemudian ke kota New York. Dikota New York ini mereka menjadi tamu dan tinggal di apartemen milik seorang warga New York yang dipanggil sebagai Bunny, istri seorang Pengacara disana. Pada sebuah acara makan malam perpisahan yang diadakan oleh sang nyonya rumah, ketua rombongan yang juga ketua suku Lanna di tanyai pendapat mereka oleh seorang tamu lainnya tentang perkawinan sejenis. Dengan polos namun penuh kearifan sang kepala suku menjawab: bahwa perkawinan antara dua mahluk yang berbeda jenis akan menghasilkan keturunan yang akan meneruskan generasi manusia sementara antara yang sejenis tidak. Sang penanya menanggapi secara defensif dengan mengatakan bahwa disini (kota New York) sudah terlalu banyak manusia sehingga tak terpikirkan lagi untuk menambahkannya lagi. Bila menginginkan putera mereka dapat mengadopsi bayi bayi tak beruntung yang tak terurus dari bagian bumi lainnya.
Ketua suku, dengan kebijakan seorang asing di negeri orang, dengan menimpali dengan mengatakan bahwa bagaimanapun ikatan perkawinan yang didasari dengan cinta tentu baik.
Dialog di serial itu menarik buat saya karena terlihat sekali sang tamu penanya di perjamuan itu ingin sekali mendapat tahu apa yang dipikirkan oleh penduduk primitif tentang homosexual, karena sejauh ini yang umum diketahui homoseksual hanya terjadi pada masyarakat yang sudah rumit susunan tata sosialnya. Saya sendiri ingin tahu apakah homoseksual itu suatu produk kemajuan budaya atau memang merupakan bagian yang syah dari kejadian alam. Dari jawaban kepala suku kita bisa menarik kesimpulan bahwa dilingkungan sosial yang sederhana homoseksual tidak begitu dikenal.
Mengenai ikatan pernikahan sejenis yang belakangan ini menjadi kontroversi di sementara negara negara Barat, saya jadinya punya pendapat begini:
Seperti yang dikatakan oleh ketua suku: Ikatan perkawinan diharapkan akan menghasilkan keturunan. Saya melihat bahwa si bakal keturunan ini akan menjadi pihak ketiga sebagai tambahan dari dua pihak yang melakukan ikatan tadi. Oleh karena itu memang dibutuhkan pihak penengah dalam hal ini pengurus negara, sebagai pihak yang akan menjamin agar pihak ketiga, yang kelak hadir, terjamin kepentingannya dalam perjalanan ikatan perkawinan tersebut. Yang menjadi pertanyaan apakah hal yang sama juga diperlukan ketika pihak ketiga dalam ikatan tersebut tidak akan eksis?
Tentu jawabanya secara logika sudah jelas. Jadi sekarang apakah perjuangan yang menjadi kontroversial mengenai di sahkannya perkawinan sejenis lebih merupakan usaha pengakuan sipil yang tak seharusnya diperlukan?
Saptono 8 Agustus 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: