SUMPAH PEMUDA BERAWAL DARI “POETOESAN PEMOEDA”?

Scan10123bcrop2

Ir. Soekarno, bersama Drs Mohammad Yamin adalah penggali Soempah Pemoeda?

Pengantar pemosting:
Masih dalam semangat hari Sumpah Pemuda ke 84, kembali sementara pihak meneliti dan mempertanyakan ke otentikan salah satu kejadian sejarah yang membentuk bangsa Indonesia. Sebelumnya adalah kejadian bersejarah lainnya yang dikenal dengan “Hari Kebangkitan Nasional”.
Terlepas apakah klaim keaslian sejarah tersebut benar atau salah , pertanyaannya adalah ; bagaimana jadinya Republik Indonesia ini seandainya tidak memiliki hari nasional yang disebut sebagai hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada setiap tanggal 28 Oktober ini? Apakah rekayasa sejarah demi membangun suatu kebangsaan secara etik masih bisa diterima?
Silahkan pembaca sekalian memutuskan sendiri setelah membaca artikel dibawah ini dan kalau mungkin sumber sumber bacaan lainnya.
wassalamualaikum.
Saptono

REKAYASA SEJARAH DALAM TEKS “SUMPAH PEMUDA”

Sesungguhnya, kata ‘sumpah’ tak ditemukan pada keseluruhan dokumen asli yang kini disebut sebagai ‘Sumpah Pemuda’ itu. Hasil ‘Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia’ pada 28 Oktober 1928 itu justru dituliskan dengan ‘Poetoesan Congres Pemoeda-pemoeda Indonesia.’
Erond Damanik, peneliti Pussis-Unimed mengatakan, berdasar kepada dokumen aslinya, maka sesungguhnya tidak pernah ‘Pemoeda Indonesia’ bersumpah pada 1928 lalu. “Tapi hanya melakukan rapat yang menghasilkan sebuah ‘poetoesan’. Dengan demikian, apa yang diketahui dan dinyatakan hingga kini sebagai ‘Sumpah Pemuda’ adalah rekayasa terhadap sebuah peristiwa sejarah,” terangnya kepada wartawan, Selasa (26/10).
Menyambut perayaan ‘Sumpah Pemuda’ yang ke 102 tahun, Erond mengatakan, adalah Muhammad Yamin yang berperan penting dalam pembelokan kata ‘poetoesan congres’ menjadi ‘sumpah pemuda.’ “Peralihan itu berawal dari dari Kongres Bahasa Indonesia Kedua di Medan pada 28 Oktober 1954. Pada saat itu Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin turut serta menghadiri pembukaan kongres itu,” terangnya.
Soekarno dan Yamin pada saat itu, sambung Erond, sedang sibuk membangun sebuah simbol yang menjadi bagian dari susunan idiologi sebuah bangsa dan negara, di tengah-tengah maraknya gerakan separatis di Indonesia.
“Dengan lihai, Yamin membelokkan kata ‘poetoesan congres’ menjadi ‘sumpah pemuda’ sebagai simbol ideologi nasional yang baru, sekaligus sebagai teguran bagi dalang gerakan separatis, yaitu ‘penjimpangan dari sumpah 1928’,” tuturnya.
Sejak Kongres 1954 di Medan itu, lanjut Erond, naskah asli Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia-1928 diganti menjadi ‘Sumpah Pemuda’, yaitu susunan ‘satu bangsa’, ‘satu tanah air’ dan ‘satu bahasa’ yang digambarkan sebagai ‘janji suci’ yang diucapkan oleh delegasi di depan kongres 1928.
Dengan demikian, menurut Erond, sebenarnya konsep Sumpah Pemuda baru dikenal pasca Kongres Bahasa Indonesia Kedua di Medan pada 1954. “Sejak saat itu, penciptaan simbol idiologi nasional yang baru atas peristiwa 28 Oktober 1928, terus diproduksi sebagai Sumpah Pemuda. Sejak saat itu pula, khususnya pada setiap perayaan 28 Oktober di era Soekarno selalu menyebutnya dengan ‘Smpah Pemuda’,” katanya.
Tidak hanya itu, lanjutnya, di era kepemimpinan Soeharto-pun, rekayasa peristiwa 1928 itu tetap dilanjutkan dan dinyatakan sebagai ‘Sumpah Pemuda’.
Erond menjelaskan, Keith Foulcher dalam bukunya berjudul ‘Sumpah Pemuda: The Making and Meaning of a Symbol of Indonesian Nationhood’ yang artinya, ‘Sumpah Pemuda: Makna dan Proses Penciptaan Atas Sebuah Simbol Kebangsaan Indonesia’, menggambarkan situasi pasca 1954 itu dengan mengemukakan ‘kelahiran dari Sumpah Pemuda.’
“Dan ini menegaskan semakin nyata makna tersbeut tidak dalam konteks yang biasa digunakan dalam pernyataan-pernyataan resmi saat itu. Tapi dalam kesadaran satu peristiwa dalam sejarah sedang di susun ulang dalam cara yang dapat membuatnya diyakini sebagai sebuah momen ditemukannya identitas nasional dan bangsa,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, sambung Erond, sebagaimana yang disebut oleh Foulcher, Yamin adalah tokoh kunci atas idiologi dari visi Soekarnois, yang pada 1955 menerbitkan selebaran yang menyatakan proklamasi 1928 tidak hanya mewakili sebuah ‘reinkarnasi’ atas Bahasa Indonesia dari suatu keberadan yang lebih awal pada masa lalu Bangsa Indonesia yang telah lewat.
“Ia juga mensejajarkan Sumpah 1928 dengan kerajaan Sriwijaya (683) dan Majapahit (1331) sebagai tiga peristiwa sejarah ‘Nusantara’ yang secara mutlak memberi jalan terbentuknya suatu negara dan komunitas yang baru disadari kebanyakan orang pada Proklamasi 1945,” ungkap Erond.
Mengutip pengantar penerbit pada edisi penerjemahan buku ‘Sumpah Pemuda: The Making and Meaning of a Symbol of Indonesian Nationhood’ yang ditulis oleh Keith Foulcher, Erond mengatakan, dengan sekumpulan detail dan fakta-fakta renik-renik
Foulcher, mengisahkan Sumpah Pemuda sudah lama tidak perawan lagi. “Kata dan kalimat rumusan awal Sumpah Pemuda terus diproduksi sehingga kata dan kalimat itu bisa memperdaya kita hingga kita buta,” katanya.
Lebih lanjut Erond mengatakan, terlepas dari tujuan yang akan dicapai, yang jelas diketahui pembelokan kata Poetosean Congres 1928 menjadi ‘Sumpah Pemuda’ adalah rekayasa sejarah yang kurang berdasar. “Oleh karena itu, pembelajaran sejarah masa kini tentang peristiwa 1928 itu mesti dikembalikan ke format asalnya yakni sebagai poetoesan congres sehingga tidak menjadi kontroversi yang berkepanjangan.
Demikian pula prasyarat utama untuk mewujudkan poetoesan congres sebagaimana tertulis pada dokumen aslinya yakni ‘kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kepanduan’ mesti diajarkan,” harapnya.
Menurut Erond, hal ini sangat penting dilakukan mengingat banyaknya sejarah Indonesia yang masih kontroversial. “Seperti yang ditegaskan oleh Foulcher, penjelasan sejarah merupakan alat untuk memberikan ‘sense of continuity’ terhadap masa kini karena kemampuannya dalam menjelaskan ingatan kolektif yang
berhubungan dengan identitas yang dapat dibanggakan itu,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Erond, sangat penting kiranya penjelasan sejarah harus sesuai dengan bukti-bukti kongkritnya yakni dokumen asli sebagai sumber-sumber primer narasi dan penjelasan sejarah. “Dalam arti, penjelasan sejarah mesti didasarkan kepada bukti autentiknya dan bukan pada rekayasa atas sumber primernya. Tanpa itu, maka yang dilakukan dengan penjelasan sejarah masa kini adalah menciptakan kebohongan kepada generasi penerus bangsa ini,” katanya. (saz)
Posted by admin on October 28th, 2010
Harian Sumut Pos » Pendidikan
diambil via facebook account Far han.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: