KUDETA YANG TAK DISEBUT KUDETA DI KAIRO

Indonesia sudah mengenal pergantian kekuasaan yang didahului dengan protes massa yang disertai penembakan sniper seperti yang terjadi pada peristiwa Trisakti Mei 1998. Sekarang hal yang sama terjadi juga di Kairo beberapa minggu yang lalu paling tidak menurut Robert Fisk dalam artilelnya dalam blog Independent yang berjudul : “When is a military coup not a military coup? When it happens in Egypt, apparently”. Korban sniper tentu dimaksud untuk memperkeruh suasana dan menambah gemparnya berita. Taktik ini pasti sudah dipakai berkali kali. Sangat pilu bagi korban dan keluarganya. Hidupnya direngut sekedar untuk kepentingan penggiringan opini publik.

Oleh: Robert FiskPara pemimpin barat yanga mengatakan bahwa Mesir saat ini masih dalam jalur demokrasi harus ingat bahwa Morsi terpilih dalam suatu pemilu yang benar benar diakui Barat.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, kudeta tidak disebut kudeta. Tentara mengambil alih, menggulingkan dan memenjarakan presiden yang terpilih secara demokratis, menangguhkan konstitusi, menangkap tersangka, menutup stasiun televisi dan membanjiri tank baja mereka di jalan-jalan ibukota. Tetapi kata ‘kudeta’ tidak – dan tidak bisa – melintas dibibir Barack ( yang diberkahi) Obama. Tidak juga kita bisa mengharapkan sekretaris jenderal PBB Ban Ki-moon akan berani mengucapkan kata ofensif seperti ini. Ini bukan seolah-olah Obama tidak tahu apa yang terjadi. Penembak jitu di Kairo Mesir menewaskan 15 warga Mesir minggu ini dari atap universitas yang sama di mana Obama berpidato yang merangkul dunia Muslim pada tahun 2009.
Apakah kebungkaman ini karena jutaan orang Mesir persis menuntut kudeta tersebut – (mereka tidak menyebutnya sebagi kudeta tentunya) dan dengan demikian menjadi kelompok massa pertama di dunia yang menuntut kudeta sebelum kudeta yang sebenarnya terjadi?
Apakah karena Oboma khawatir bahwa mengakui kejadian itu adalah kudeta akan memaksa AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap Negara Arab yang berdamai dengan Israel yang paling penting? Atau karena orang-orang yang melancarkan kudeta mungkin akan kehilangan tunjangan 1,5 miliar dollar  selamanya dari AS – lebih dari sekedar penundaan – jika mereka disebut sebagai benar-benar melakukan suatu kudeta.
Sekedar mengingatkan sejarah saja, yang pasti akan dikenang manis oleh Obama. Dalam pidatonya yang mengejutkan di Kairo pada tahun 2009- di mana ia lebih suka menggunakan istilah “penggusuran bangsa Palestina” daripada “perampasan tanah bangsa Palestina”. Obama membuat komentar yang luar biasa berikut ini, yang menjadikan peristiwa di Mesir sekarang ini ( kudeta) dalam perspektif yang agak menarik. Ada beberapa pemimpin, katanya, “yang  memperjuangkan demokrasi hanya pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus hak-hak orang lain … Anda harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat toleransi dan kompromi, anda harus menempatkan kepentingan rakyat dan cara kerja yang sah dari proses politik di atas ( kepentingan) partai Anda. Tanpa ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni. “
Obama tidak mengatakan ini sesudah hingar bingar kudeta yang (dianggap) tidak pernah terjadi ini. Dia mengucapkan kata-kata ini di tepat Mesir yang sama lebih dari empat  tahun yang lalu. Dan itu sangat meringkas apa yang salah dengan yang telah dilakukan oleh Mohamed Morsi. Ia memperlakukan rekan rekan Ikhwanul Muslimnya sebagai tuan bukan pelayan rakyat, tidak menunjukkan minat dalam melindungi minoritas Kristen Mesir, dan kemudian membuat marah tentara Mesir dengan menghadiri pertemuan Persaudaraan di mana Mesir diminta untuk bergabung dengan perang suci di Suriah untuk membunuh kaum Syiah dan menggulingkan rezim Bashar al-Assad.
Dan ada satu fakta menonjol tentang peristiwa-peristiwa di 48 jam terakhir  di Mesir. Tidak ada yang lebih bahagia – tidak ada yang lebih puas  atau lebih sadar atas kebenaran perjuangan bangsa sendiri terhadap ‘Islamis’ dan ‘teroris’ – dibandingkan Assad. Barat telah memabukkan diri mereka untuk menghancurkan Assad – tapi tidak melakukan apa-apa ketika tentara Mesir menghancurkan presiden yang terpilih secara demokratis yang bergabung dalam barisan Islamis bersenjata penentang Assad. Tentara menyebut pendukung Morsi itu sebagai  “teroris dan orang-orang bodoh”.
Bukankah demikian juga Bashar menyebut musuh-musuhnya? Tidak heran bila Assad mengatakan kepada kami kemarin bahwa seharusnya agama tidak digunakan untuk merengkuh kekuasaan. Tawa kosong di sini – di luar panggung, tentu saja. Tapi ini tidak membuat Obama lepas (dari tnggung jawab). Para pemimpin Barat yang dengan santun mengatakan kepada kita bahwa Mesir masih di jalan  menuju “demokrasi”, bahwa ini adalah periode – peralihan seperti  pemerintahan peralihan Mesir yang direka-reka  militer – dan bahwa jutaan orang Mesir mendukung kudeta yang bukan dikatakan kudeta, harus diingat bahwa Morsi memang terpilih dalam pemilu nyata yang diakui Barat. Memang, dia hanya meraih 51 persen – atau 52 persen – suara. Tapi apakah George W. Bush benar-benar memenangkan pemilihan pada jabatan presidennya yang pertama? Morsi tentu memenangkan pangsa suara popular lebih besar daripada David Cameron. Kita dapat mengatakan bahwa Morsi kehilangan mandatnya saat ia tidak lagi menghormati perolehan mayoritasnya dengan melayani mayoritas orang Mesir. Tapi apakah itu berarti bahwa tentara Eropa harus mengambil alih negara mereka setiap kali seorang perdana menteri negara Eropa jatuh di bawah 50 persen dalam jajak pendapat publik mereka?
Dan adakah Ikhwanul Muslimin akan diizinkan untuk berpartisipasi dalam pemilihan presiden Mesir selanjutnya? Atau mereka akan diberangus? Dan jika mereka berpartisipasi, apa yang akan terjadi jika calon mereka menang lagi? Israel, bagaimanapun juga seharusnya senang. Mereka tahu terjadi kudeta ketika mereka menyaksikannya dan sekarang kembali memegang peranan familiarnya sebagai satu-satunya demokrasi’ di Timur Tengah, dan dengan jenis tetangga yang mereka tahu: penguasa militer. Dan jika para militer kaya pembuat raja Mesir akan mendapatkan 1,5 miliar dolar AS per tahun dari Washington- meskipun ditangguhkan – mereka pasti tidak akan mengutak-atik perjanjian damai negara mereka dengan Israel, betapapun  tidak populer bagi orang-orang yang menjadi sasaran kudeta- yang ( dianggap) tidak pernah ada. Bersiaplah untuk pertama kalinya delegasi AS mengunjungi negara yang telah mengalami kudeta-yang ( dianggap) tidak ada. Dan Anda akan tahu apakah mereka percaya ada kudeta atau tidak dari orang-orang yang mereka kunjungi pada saat kedatangan mereka di Kairo: tentara, tentu saja.

Judul asli: “When is a military coup not a military coup? When it happens in Egypt, apparently”

Sumber: http://www.independent.co.uk/voices/comment/when-is-a-military-coup-not-a-military-coup-when-it-happens-in-egypt-apparently-8688000.html
Courtesy : Robert Fisk
Gambaran dari warga Mesir sendiri:
http://nadiaelawady.wordpress.com/2013/07/27/egypts-road-to-hell/
http://nadiaelawady.wordpress.com/2013/07/28/what-does-it-take-to-brainwash-the-egyptian-people/
http://nadiaelawady.wordpress.com/2013/07/26/war-is-seemingly-being-declared-on-the-brotherhood-but-are-they-deserving-of-it/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: