10 TAHUN MEDIA SOSIAL DAN ISLAM

Ketika media sosial diperkenalkan ke peradaban kita satu dekade lalu, tidak satupun dari kita membayangkan bagaimana hal itu akan mengubah dunia dan juga Islam, tulis Omar Shahid.

Bagaimana 10 tahun media sosial telah mengubah Islam?

Facebook, Twitter, YouTube dan “friends”  telah membantu memicu revolusi, menggulingkan diktator, membantu ekstrimis dan kebiasaan hasut menghasuti. Media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi, berpikir, membentuk persahabatan dan meng akses  informasi . Di antara  revolusi yang disulut media sosial, apa yang kurang dibahas adalah dampak drastisnya bagi  Islam.

Media sosial menghadapkan Islam pada  serangkaian tantangan serius. Banyak murtad  yang menggunakannya untuk menyerang dan mengungkapkan keluhan atas keyakinan ini. “Media sosial adalah tempat agama untuk mati. Kami [kaum murtad] tidak dapat disensor dan suara kami menyebar di seluruh dunia, “kata Saif Rahman, seorang murtad dan penulis. Semakin banyak Islamofobia dan ateis “taat” juga menggunakan Facebook dan Twitter untuk menyerang Islam. Beberapa, tentu saja, memiliki perhatian yang tulus, sementara yang lain tampaknya hanya tertarik pada publisitas, meningkatkan  penjualan buku dan memanfaatkan industri Islamophobia yang tercipta  pasca 9/11. Bagi umat Islam yang sudah goyah dengan iman mereka, ini menyebabkan kebingungan, kegoyahan dan keraguan.

( Tapi) di sisi lain, media sosial telah memungkinkan umat Islam untuk menyiarkan iman mereka dan menghalau stereotip. Salah satu contoh adalah halaman Facebook “Hadis of the Day” ( Hadis Hari Ini), yang didedikasikan untuk menyampaikan ucapan Nabi Muhammad, yang memiliki lebih dari 6 juta “likes”. Akibatnya, banyak orang yang seandainya tak ada “ Hadis of the Day” ini  tidak akan punya akses  ke informasi tentang Islam, berbondong-bondong “ mendatangi”  agama yang sedang mengalami perkembangan pesat ini. Video  “Happy British Muslim “ (https://www.youtube.com/watch?v=gVDIXqILqSM), sebuah lagu parodi dari lagu hit tahun 2014 “Happy” yang dinyanyikan oleh Pharrell Wlliams yang meyebar seperti virus di  bulan lalu, adalah salah satu contoh terbaru bagaimana beberapa Muslim menggunakan YouTube untuk mengekspresikan iman, budaya dan identitas mereka.

Tapi di sini adalah inti dari semua itu. Media sosial berarti umat Islam sekarang harus mematuhi aturan aturan tak tertulis. Ulama Islam, yang dulunya  bebas untuk banyak  mengatakan sekehendak hati, sekarang harus memperhatikan setiap kata yang mereka ucapkan. Dalam hitungan detik, sesuatu yang mereka katakan mungkin sudah di Twitter, lalu di-retweet demi retweet hingga ter share keseluruh dunia cyberspace. Berlalulah sudah hari-hari ketika para ulama bisa membuat pernyataan tanpa berpikir tentang homoseksualitas misalnya, atau, hal hal lain apapun yang berpotensi memancing perdebatan. Sekarang, ketika ulama berbicara, mereka dengan segera  menjelaskan apa yang mereka maksud, dan berhati-hati untuk tidak mengutip teks tanpa konteks. Islam, jika Anda tidak menyadari, sedang dikritisi.

Tahun lalu, Mufti Ismail Menk, seorang khatib Islam populer yang punya hampir  900.000 pengikut di Facebook, dilarang berbicara di universitas Inggris setelah sebuah video nya  muncul mengekspresikan pandangan anti-gay di YouTube.

Sebuah keributan serupa meletup sebelumnya pada tahun 2013 ketika salah satu ulama Muslim terkemuka mendapat masalah karena komentarnya tentang homoseksualitas yang ia lontarkan hampir 20 tahun yang lalu. Ulama yang  dihormati ini dengan cepat menyangkal apa yang telah dikatakan dua puluh tahun yang lalu itu, tapi kerusakan sudah terjadi.

Kedua ulama itu telah dengan segera  menjauhkan diri dari tuduhan yang ditujukan pada mereka, yang mungkin saja dapat membatasi kerusakan reputasi mereka. Apa yang kita lihat sekarang adalah bahwa para ulama, malu dengan kehebohan yang mereka buat, segera mengirimkan pesan bahwa mereka berpihak pada kehidupan yang  berdampingan secara damai, keragaman dan toleransi. Ini biasanya yang menjadi ujung-ujungnya, dan ulama ulama sekarang sangat berhati-hati untuk tidak mengatakan hal semacam itu lagi. Dan sebenarnya, kesalahan- kesalahan mereka tidak hanya jadi pelajaran buat ulama  sezaman mereka, tetapi juga  membantu mengubah cara-cara pewacanaan agama.

Jika memang dibutuhkan media sosial untuk menyiangi semua retorika agama yang tidak menyenangkan, biarkanlah begitu. Sejumlah pandangan tertentu dalam masyarakat Muslim telah dibiarkan untuk berkembang terlalu lama dan sudah waktunya mereka untuk di setrap.

Media sosial telah menyampaikan beberapa pelajaran yang sangat penting untuk ulama muslim belakangan ini.  Salah satunya adalah untuk menahan lidah mereka atau menghadapi reaksi – yang tidak hanya mempengaruhi mereka, tapi masyarakat Muslim pada umumnya. Setiap kali seorang ulama membuat komentar ngawur atau pernyataan sembrono Islamofobia muncul lagi dan Muslim awam yang harus menghadapi konsekuensinya. Meskipun benar bahwa umat Islam harus dibolehkan untuk mengekspresikan iman mereka tanpa rasa takut, pandangan yang dibebani  kebencian yang terhapus adalah tanda kemajuan.

Apa yang  makin membuat sejuk retorika Muslim adalah apa yang disebut sebagai peristiwa 9/11. Banyak cendekiawan Muslim yang sadar bahwa Islam sekarang sedang disorot tajam, merasa wajib untuk menyajikan iman mereka dengan cara yang sejuk. Kita cukup melihat Syekh Hamza Yusuf yang cemerlang , yang, sebelum 9/11, jauh lebih militan dalam pendekatannya. Sekarang, terutama dengan memanfaatkan daya tebar media sosial, ia telah berkhotbah dengan nada yang lebih lembut dan sangat berhati-hati tentang apa yang akan ia ucapkan.

Tapi apa artinya semua ini bagi masa depan Islam?

Dengan pandangan  yang semakin dikritisi, tak pelak lagi akan mengarah pada pandangan yang lebih pluralistik, toleran dan penuh hormat- hal-hal yang tak terpisahkan dengan tradisi Islam. Gelombang media sosial telah membuat surut Islam, memberikan para  otoritas Islam sesuatu untuk dipikirkan. Hal ini mengubah cara berpikir Muslim dan cara non Muslim berpikir tentang Muslim. Dalam sebuah cuplikan di Huffington Post baru baru ini, Steve Rose, seorang jurnalis muda Inggris, mengungkapkan tentang bagaimana media sosial telah membantu memberinya pandangan yang lebih dalam tentang Islam.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, pengetahuan Islam telah menjadi sangat begitu mudah didapat. Beberapa ulama besar Islam memiliki akun Twitter, Facebook dan dapat disaksikan penampilannya dengan mudah di YouTube. Banyak dari mereka secara teratur meng update Twitter mereka dengan tausiah, menjawab pertanyaan pembaca dan dan me-link Tweet merka ke sumber-sumber Islam yang dapat diandalkan. Konsekuensi tak terelakkan dari berkembangnya pengetahuan Islam yang sahih adalah bahwa generasi muda Muslim, dibandingkan dengan orang tua mereka yang tidak memiliki akses yang sama ke tradisi agama, akan lebih terdidik dalam hal keimanan mereka.

Walau terus menerus diserang dengan berita-berita utama yang negatif, perang anti  agama yang tak henti henti dan ancaman media sosial, Islam sebenarnya adalah salah satu kisah sukses terbesar di zaman kita ini.

Sesuatu yang patut untuk di “like dan di” share”

Judul asli:

How 10 Years of Social Media Has Changed Islam

oleh Omar Shahid.

http://www.aquila-style.com/focus-points/10-years-social-media-changed-islam/66937/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: