JALAN POS ANYER PANARUKAN DI JAKARTA

jalan aner panarukan di batavia.jpg

Jalan Pos Anyer Panarukan yang dibangun mulai tahun 1808 adalah jalan yang melintas Pulau Jawa, tetapi dimanakah jalan itu sekarang melintas di Jakarta?

Tak ada tanda tandanya ( apakah Dinas Sejarah DKI sudah  memikirkan untuk memberi tanda? ) ,  tetapi jalurnya tentu masih ada dan dengan bantuan peta  Falk terbitan tahun 1997 dan sedikit logika, tak terlalu sulit untuk menelusurinya dan sangat menyenangkan, namun masih ada kemungkinan salah.

Kita mulai saja dari arah Tangerang.  Jalan Pos  pastinya masuk ke Jakarta  dari jalan Daan Mogot, jalan dengan satu nama yang terpanjang di Jawa  ( logik no 1: sebagai  jalan lintas Jawa pasti panjang tak putus putus dan sebisanya tidak belok belok) . Dilanjutkan dengan jalan Kyai Tapa dan jalan KH Hasyim Ashari sampai mentok di jalan Gajah Mada ( Logik no 2: Jl Gajah Mada- Hayam Wuruk sudah ada seabad sebelum jalan Pos dibangun dan merupakan jalan aksis maka  jalan Pos  “terpaksa” mengalah dan belok kanan lalu belok kiri) berlanjut belok kiri ke jalan Juanda –Veteran berlanjut ke jalan Pos ( logik no 3: Ya memang inilah namanya) dan disana ( logik no 4) ada kantor Pos Pusat . Lalu ( logik no 5) belok kanan “ menghampiri “ Istana Daendels “Sang Pembangun” di jalan Gedung Kesenian dan jalan Lapangan Banteng Timur berlanjut ke jalan Senen Raya lalu jalan Kramat Raya lalu jalan Salemba kemudian jalan Matraman lalu jalan Jatinegara Barat atau Jalan Jatinegara Timur atau keduanya ( sesuatu yang menarik untuk di kaji) lalu jalan Otto Iskandar Dinata, jalan Dewi Sartika dan Jalan Bogor Raya hingga Bogor ( melintas dibelakang Istana Bogor)  dan terus ke Bandung ( melintas di jalan Asia Afrika.

jl kantor pos 1890an

Kalau De Groote Postweg adalah ular naga yang panjangnya bukan kepalang maka Post en Telegraafkantoor di jalan Pos ini (pertama kali direncanakan  tahun 1756) adalah kepala naganya. Bisa dibayangkan di masanya banyak kereta/kuda pos yang datang dan pergi dari dn ke segenap penjuru pulau Jawa membawa muatan pos/pos paket, dokumen dokumen negara, gaji pegawai, hasil segala pungutan pajak. Dengan kata lain, jalan Raya Pos ini sangat mempermudah Batavia mengontrol pulau Jawa secara administrasi dan militer. Pasukan ekspedisi dengan cepat bisa dikirim ke daerah yang memerlukan penyelesaian militer karena jalan Anyer-Panarukan ini telah mempersingkat waktu perjalanan dari ujung Barat ke ujung Timur pulau Jawa dari 40 hari menjadi hanya 6 hari. Saya punya dugaan bahwa De Groote Postweg ini adalah ide dari Napoleon Bonaparte,seorang strategist militer yang visionaris  kakak dari Raja Belanda waktu itu Louis ( Lodewijk) Bonaparte yang melantik HW Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di tahun 1803. Foto ini diambil sekitar tahun 1890 ketika telegram sudah diperkenalkan di Hindia Belanda pada tahun 1856. Sistim pengiriman surat dan paket sudah dimulai sejak  tahun 1602(menggunakan cap tanda lunas di sampul/bungkusnya (franked, kemudian diadopsi menjadi kata perangko) namun baru tahun 1864 menggunakan perangko.

Di jalur inilah di Batavia dulu dibangun gedung gedung penting seperti Kantor Pos itu sendiri, Istana Negara ( dibangun lebih dulu dari Istana Merdeka sebagai country house van Braam), benteng Prins Frederic yang kemudian menjadi taman Wilhelmina ( sekarang Istiqlal) ,gereja Kathedral, Istananya Daendels ( sekarang gedung Kementerian Keuangan),  Rumah Sakit Militer (bekas kediaman gubernur jenderal yang diberi  nama mansion Weltevreden sekarang  bernama RS Gatot Subroto) , Pabrik opium di Salemba yang kemudian jadi kampus UI, HBS di jalan Matraman ( sekarang SMA 68), Benteng Meester Cornelis di kampung Pulo Jatinegara.

jl di mega mendung rade saleh

” Jalan di Megamendung ” karya Raden Saleh Syariif Bustaman (1879) sangat mungkin menggambarkan bagian jalan Raya Pos di di sana. Penggambaran suasananya mendekati kenyataan.

Bersama  dengan aliran sungai Ciliwung dan jalur rel KA Sudah pasti jalan Anyer Panarukan ini  sangat berpengaruh dalam perkembangan pola fisik kota Jakarta. Perkembangan Batavia yang semula dari arah Utara ke Selatan  berubah arahnya menjadi dari Barat ke Timur di ujung jalan Molenvliet ( Gajah Mada -Hayam Wuruk sekarang) Untuk kemudian berbelok lagi ke Selatan di depan Waterlooplein ( Lapangan Benteng) mengikuti jalan Raya Pos ini berlanjut ke arah Bogor dimana kediaman gubernur jenderal berada ( sekarang Istana Bogor) sebelum mencapai ujungnya di Panarukan Jawa Timur.

jl istiqlal fort prins frederic 1896

Benteng Prins Frederic yang kemudian menjadi taman Wilhelmina dan akhirnya menjadi lahan Mesjid Istiqlal.

Jalan Anyer Panarukan ini juga merupakan symbol peningkatan cengkeraman kolonial dari sekedar kota Batavia ke keseluruh Pulau Jawa, namun Ironisnya  jalan yang antara lain dimaksudkan untuk mempertahankan pulau Jawa justru digunakan oleh 12000 pasukan Inggris ( didukung oleh korps Irlandia, dan korps India yang dikirim  oleh Lord Minto dari India  lewat Malaka dibawah komando Sir Samel Auchmuty ) , musuh Perancis pemilik sementara Hindia Belanda waktu itu ( 1808-1811), menyerbu Batavia hingga bisa masuk jauh ke Selatan ke  daerah Meester Cornelis  pada tanggal  26 Agustus 1811 tak berapa lama setelah jalan ini mulai digunakan. Di bulan Maret  1942, jalan ini juga digunakan Balatentara Dai Nippon ke XVI pimpinan jenderal Hitoshi Imamura masuk ke Batavia dari tempat pendaratannya di Anyer.

Jalan Anyer Panarukan ini kemudian berkembang menjadi jalan raya untuk kendaraan bermotor hingga sekarang meski kemudian dibangun jaringan rel kereta api yang dimulai dari jalur Batavia-Buitenzorg pada tahun 1873.

100_4459CR

Patung Hermes tokoh mitologi pembawa berita/Pos ini (pernah) berdiri di jembatan jl. Juanda seolah menyongsong masuknya jalan Raya Pos ( disitu sekarang jl KH Hasyim Asyhari) ke Batavia di Molenvliet ( sekarang jl Gajah Mada-Hayam Wuruk)  dari Anyer. Sebenarnya di tempat ini bisa dibangun suatu tempat terbuka( plaza) yang bersifat memorial karena tempat ini bernilai tinggi dari segi ruang dan waktu ( tempat kejadian dan sejarah) dan saat ini tempat ini merupakan tempat yang sangat ramai.

Mohon masukan sekiranya ada yang keliru atau kekurangan.

Saptono Istiawan.

Peta Jakarta courtesy Gunther W. Holtorf/ Penerbit Jambatan Jakarta. foto hitam putih sumber: Istimewa.foto berwarna : tono
Sumber lain : “Old Jakarta” oleh Maya Jayapal , Oxford University Press, Kuala Lumpur 1993.
wikipedia :Hitoshi Imamura

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: