KALIJATI

Kalijati dekat kota Subang sekarang semakin mudah dijangkau sejak ada jalan tol Cipali. Sebuah kota kecil namun ada pangkalan udaranya disana. Menyimpan kenangan saya ketika berusia sekitar 11 tahunan tinggal beberapa minggu disana mengikuti pekerjaan Ayah saya bersama dengan kakak saya.
Pada saat itu Kalijati rupanya di jadikan tempat perakitan dan pemeliharaan peluru kendali darat ke udara SA- 2 buatan Uni Sovyet ( salah satu jenisnya di pasang di depan Museum Satria Mandala di jalan Gatot Subroto) . Tentu saja kerahasiaan militer meliputi keberadaan fasilitas rudal tersebut . Dinding yang dibangun mengelilingi seluruh kompleks di cat loreng loreng dalam pola kamuflase pakaian tempur. Cuma anehnya para insinyur yang membantu merakit dibiarkan bercampur baur dengan masyarakat setempat. Kami termasuk salah satunya. Mereka menghabiskan waktu luangnya dengan memancing di kolam dan mereka bercakap cakap dengan bahasa tarzan dengan kami. Kami sempat belajar beberapa kata Rusia seperti karablip untuk kapal dan kamipun dibiarkan berjalan jalan di asrama mereka dan kami mengambil kesempatan itu untuk mengumpulkan bungkus rokok yang merupakan kesenangan anak anak waktu itu dan karena rokoknya warga asing maka bungkus rokoknyapun sangat eksotis bagi koleksi kami.
Kami sendiri ditempatkan di satu rumah perwira di seberang landasan pacu. Rumah itu terlalu besar buat kami bertiga namun mungkin tak ada tempat hunian lain di pangkalan tersebut.
Yang saya ingat jatah makanan disana sangat baik mungkin standard AURI ( sekarang TNI-AU ) waktu itu.
Meski disebut pangkalan udara tak satupun pesawat terbang tampak disana selama saya disana kecuali pada suatu hari saat datang mendarat pesawat T-34 Mentor. Sejenis pesawat buatan pabrik Beechcraft di Amerika berbaling baling berkursi dua digunakan sebagai pesawat latih dasar yang digunakan AURI waktu itu.

800px-T-34A_USAF

Sebuah kejadian yang langka sekaligus tontonan yang mempesona bagi saya dan kakak saya. Hebatnya lagi kami diizinkan mendekat ke pesawat tersebut namun sebelumnya diingatkan oleh pilotnya agar kami jangan menyentuh pesawat tersebut. Kami lalu mendekat dan bahkan berjalan dibawah pesawat tersebut , namun apa daya saking terkagum kagumnya tanpa sadar saya memegang bagian sayap pesawat tersebut dan tak ayal lagi kami semua diusir keluar pangkalan namun kami tetap merasa puas telah bisa melihat dari dekat sebuah pesawat militer.

Sebuah pelajaran buat kami untuk mematuhi peringatan.
Samar samar saat itu saya ingat bahwa Kalijati adalah tempat Belanda menyerah secara resmi kepada pasukan Jepang yang menyerbu Indonesia di tahun 1942. Dan saya mengira-ngira bahwa salah satu ruangan di rumah yang kami tinggali adalah tempat perundingan penyerahan tersebut atau paling tidak salah satu dari deretan rumah rumah dimana kami tinggal.
Dan sekarang beberapa puluh tahun kemudian saya mencoba membayangkan drama yang terjadi di ruangan tersebut tepat hari ini 8 Maret 74 tahun yang lalu.

Tempat kejadian itu sekarang dijadikan Museum sejarah. Disalah ruang terbesar bangunan bersejarah itu telah duduk para perunding Kalijati. Sebenarnya lebih tepat sebagai suatu forum penuntutan daripada suatu perundingan. Tuntutan kapitulasi pemerintah Hindia kepada balatentara Dai Nippon. Dan letnan jenderal Hitoshi Imamura selaku ketua delegasi Jepang memainkan perannya dengan baik terhadap lawannya gubernur jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer yang didampingi jenderal Hein ter Poorten, panglima perang Hindia Belanda .

Kejadian dimulai pukul 17: 15 waktu setempat.
Letnan jenderal Imamura membuka dengan pertanyaan apakah gubernur jenderal dan panglima tentara berwibawa untuk mengadakan pertemuan tersebut. Gubernur jenderal lalu menjawab bahwa ia tak berhak berbicara selaku panglima tertinggi. ( hal ini mengherankan karena sejak dulu kala pimpinan tentara dan pemerintahan selalu berada ditangan gubernur jenderal , hanya Angkatan Laut secara langsung berada dibawah Ratu Belanda)
Imamura kepada Tjarda ( langsung ke persoalan sebagai tekanan pertama) : Saya tuntut dari Tuan penyerahan tanpa bersyarat.
Ter Poorten berpaling kepada Tjarda , membentangkan kedua telapak tangannya tangannya sebagai isyarat tak berdaya dan berbisik namun terdengar jelas: ” Ziet U wel, dat was te verwachten” ( Anda lihat kan ?, itu sudah diharapkan ). Tjarda memandang dengan kritis kepada panglimanya.
Imamura mengulang: Apakah Tuan setuju dengan kapitulasi tak bersyarat?
Tjarda ( menggelengkan kepalanya) : Tidak, saya tidak menyerah( lalu merasa terganggu oleh sesuatu berkata) Maaf sebentar , saya tidak tahu apa orang yang di pintu itu seorang juru potret atau seorang wartawan tetapi saya ingin melihat bahwa Tuan menyuruh dia pergi.
Imamura: Mengapa Tuan datang ke Kalijati, jika Tuan toh tidak berniat untuk menyerah? ( tekanan kedua Imamura).
Tjarda : Bukan saya, melainkan Tuan yang telah meminta pertemuan ini ( mencoba tidak tampak lemah) dan saya datang mengharapkan untuk membicarakan dengan Tuan tentang pemerintahan sipil atas pulau Jawa.
Sejenak hening, tetapi Imamura dengan melihat gestur Ter Poorten tadi tahu dimana titik kelemahan lawan.
Imamura ke Ter Poorten: Sekarang kita sesama prajurit dan tidak akan memperdalam argumentasi yuridis. Kita ini harus mencapai hasil .
Ter Poorten ( kelemahannya terpapar) : Tentara saya sudah letih berjuang. Pasukan bersenjata Tuan telah memenangkan pertempuran ( namun coba bertahan dengan berkata) saya hanya dapat menawarkan pada Tuan penyerahan kota Bandung.
Imamura: Kapitulasi Bandung tidak menjadi perhatian kita.
Kemudian Imamura beberapa kali mengajukan tuntutannya ke Ter Poorten dan Ter Poorten beberapa kali juga tetap hanya menawarkan Bandung.
Akhirnya Imamura mengultimatum: Tidak ada gunanya untuk mengulangi permintaan ini . Jikalau Tuan tidak menyerah maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali meneruskan penyerangan. Tuan dapat kembali segera ke Bandung . Saya akan memberi kepada Tuan satu pas ( vrijgeleide) sampai lini terdepan, tetapi pada waktu Tuan melintasi lini ini , saya akan melakukan pemboman atas Bandung oleh pesawat-pesawat yang Tuan lihat telah siap sedia di lapangan ini. Tetapi saya akan memberikan kepada Tuan kemungkinan terakhir untuk mempertimbangkan permintaan saya.
Imamura ( sambil berdiri) : Saya akan memberikan Tuan 10 menit .
Imamura kepada Tjarda ( setelah 10 menit) : Saya tidak mau berbicara tentang pemerintahan sipil . Tuan rupanya tidak mempunyai kekuasaan tertinggi untuk menjawab tuntutan saya, saya sekarang melarang Tuan untuk berbicara satu katapun dari saat ini dan dan saya hanya akan berbicara dengan panglima tentara ( tentu saja Ter Poorten yang dimaksud).
Ketika Imamura mengulangi tuntutannya sekali lagi, Ter Poorten menerima untuk menyerah atas nama seluruh Hindia Belanda.
Petemuan akhirnya ditutup dan Gubernur jenderal sempat berkata :
Karena pengambilan keputusan demikian ( yang dimaksud penyerahan tentara ), tidak termasuk kekuasaan saya , maka saya akan meninggalkan ruangan ini dan pergi .
Tjarda ( setelah berdiri dan tiba di pintu): Saya meminta pada Tuan untuk menyuruh pergi juru potret dan sebagainya.
Ter Poorten kemudian menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Jepang dan menanda tangani sebuah keterangan. keesokan harinya NIROM ( RRI nya Hindia Belanda waktu itu) menyiarkan perintah harian Ter Poorten supaya KNIL menghentikan perjuangan dan menyerah namun sampai sepuluh hari kemudian NIROM masih memutar lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus” pada setiap penutup siarannya. Untuk ini kepala penyiarannya P. Kusters dan beberapa stafnya, atas perintah Imamura dipancung kepalanya di Ancol pada tanggal 7 April 1942. Memang dalam perang bagi siapa saja yang masih melawan ketika panglimanya sudah menyatakan menyerah hukumnya sama dengan mata-mata yang tertangkap. Sementara itu Tjarda dan pengikutnya masih diizinkan tinggal di villa ” Mei Ling” di Lembang dan pada tanggal 6 April 1942 dipindahkan ke penjara Sukamiskin di Bandung . Sebelas hari kemudian pada tanggal 17 April 1942 bersama Ter Poorten dipindahkan ke penjara Struiswijk di Batavia dan kemudian diangkut via Taiwan dan Jepang ke Manchuria sampai mereka dibebaskan oleh tentara Uni Soviet di tahun 1945.

Sumber:
H. Rosihan Anwar : Musim berganti. Sekilas sejarah Indonesia 1925-1950. Penerbit Grafiti Pers . Jakarta 1985
Onghokam : Runtuhnya Hindia Belanda. Penerbit PT Gramedia Jakarta 1987

sumber foto pesawat T 34 Mentor  : Wikipedia/ USAF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: